Suatu hari di sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia, ada sebuah karikatur yang cukup menggelitik. Di karikatur itu digambarkan sesosok alien (mahluk luar angkasa) yang terbengong-bengong menyaksikan ulah 22 orang lelaki penduduk bumi di atas sebuah lapangan berumput. Ke 22 lelaki dewasa itu terlihat begitu antusias berlarian ke sana kemari memperebutkan sebuah benda bulat dengan corak hitam putih. Yah, sang alien digambarkan begitu terbengong-bengong menyaksikan penduduk bumi sedang memainkan sepakbola.

Bila dilihat secara kasat mata, keheranan sang alien mungkin bisa dimengerti. Betapa tidak, 22 orang lelaki dewasa berbadan sehat tampak begitu bersemangat memperebutkan sebuah bola. Benda dari bahan kulit tersebut dikejar sekuat tenaga, tapi begitu ada di kaki benda itu kembali ditendang jauh-jauh. Sungguh sebuah perbuatan yang membingungkan.

Tapi itulah sepakbola. Sebuah cabang olahraga dengan jumlah penggemar terbesar di dunia. Saat ini diperhitungkan ada sekitar 3 miliar orang yang memainkan olahraga menyepak kulit bundar itu. Gema ajang 4 tahunan yang mempertemukan berbagai negara terbaik dari benua-benua yang ada di muka bumi ini kadang malah lebih terasa dari gema Olimpiade. Wajar saja bila di abad modern ini, sepakbola kemudian dijadikan sebagai ladang bisnis yang sangat menggiurkan.

Berbagai pernak-pernik dan drama di belakang sepakbola adalah sebuah kisah yang sangat menarik, bukan saja buat para penggemar sepakbola namun juga bagi semua orang yang mungkin tertarik untuk mengetahui kekerabatan dan hubungan yang erat antara sepakbola dengan politik, budaya dan ekonomi secara global. Dan buku setebal 334 halaman ini hadir untuk menceritakan berbagai kisah tersebut.

Sepakbola, identitas dan politik.
Saat pertama kali sepakbola modern digagas dan kemudian disebarluaskan oleh orang Inggris ke segala penjuru dunia, mungkin tak ada yang mengira kalau suatu saat nanti sepakbola akan menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat yang memengaruhi banyak aspek kehidupan di dunia ini. Sepakbola tidak melulu hanya sebuah permainan, dia juga sekaligus mejadi sebuah hiburan, bisnis, alat komunikasi, tanda identitas dan sebuah ideologi pada saat yang bersamaan.

Di Italia, orang-orang Napoli dan Italia selatan yang lebih proletar, menggunakan sepakbola untuk meningkatkan martabat mereka di mata orang-orang Italia utara yang lebih borjuis. Sebelum Diego Maradona datang ke Napoli dan segera menjadi dewa di kota itu, orang-orang Italia selatan hanya dicap sampah oleh orang-orang Italia utara. Proses kedatangan Maradona sendiri cukup unik karena hampir sebagian besar orang Napoli menyumbangkan Lira dan segala harta benda kesayangan mereka untuk membayar biaya kedatangan sang bintang dari Barcelona (bab: fanatisme Napoli). Jelas ini adalah sebuah perjuangan besar untuk meningkatkan martabat dan memperjelas identitas diri mereka. Dan itu dilakukan lewat jalur sepakbola.

Di Uganda, saat diktator maha kejam Idi Amin masih berkuasa, sepakbola menjadi salah satu penyelamat orang-orang di sana. Seseorang bisa lolos dari maut dan hukuman para tentara sang diktator bila terbukti kalau dia penggemar sepakbola. ( bab : penjagal dari Afrika).

Di Irak, segerombolan penculik melepaskan sanderanya setelah melihat aksi Francesco Totti yang melepaskan kaosnya. Sang penculik yang ternyata adalah penggemar berat Totti begitu tersentuh dengan perlakuan sang bintang yang menuliskan “ bebaskan Giuliana “ di kaos dalamnya dan berlari di sekujur stadion Olimpico selepas mencetak gol. (bab: the last gladiator).

Di Mexico, raksasa sepakbola Italia Inter Milan begitu berhasrat membantu pasukan pemberontak Zapata lewat sumbangan uang, moril dan tentu saja seperangkat alat untuk bermain sepakbola. Bantuan ini memang berbau politis mengingat daerah yang dikuasai pemberontak Zapata adalah daerah kaya minyak dan bos besar Inter Milan-Massimo Moratti-adalah raja minyak. (bab: udang di balik batu).

Sebelumnya di piala dunia Mexico 1986, Diego Maradona dan rakyat Argentina telah membalas kekalahan mereka di perang Malvinas dari Inggris lewat sebuah pertandingan sepakbola yang akan dikenang sepanjang masa. Bukan hanya lewat sebuah rivalitas dan pertarungan kelas tinggi namun juga lewat sebuah gol indah Maradona dan sebuah gol curang sang dewa. Maradona mencetak sebuah gol yang disebutnya gol tangan Tuhan. Dalam keterangan resminya kepada pers,Maradona mengatakan, “ tak apa-apa mencuri dari seorang perampok”. Sebuah balasan yang mereka anggap setimpal setelah Inggris sukses merebut pulau Falkland. (bab: Maradonapun benci Bush).

Sungguh, sepakbola telah melampui batas-batas teritori dan batas-batas kepentingan. Sepakbola tak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah permainan belaka. Sepakbola telah berubah menjadi berbagai macam alat dan senjata. Senjata untuk membalas dendam, alat untuk meningkatkan harga diri dan terkadang sebagai alat untuk berdiplomasi.

Di bab : ramadhan dan sepakbola diterangkan secara gamblang bagaimana otoritas sepakbola tertinggi di Eropa (UEFA) begitu serius menyesuaikan jadwal pertandingan liga-liga Eropa dengan jadwal berpuasa para pemain sepakbola muslim yang mencari nafkah di daratan Eropa. Hal yang sama juga dilakukan oleh FA (PSSI-nya Inggris) yang sudah mencoba bersikap bijak kepada para pemain sepakbola muslim yang merumput di EPL Sebuah gambaran betapa sepakbola juga mampu menyelaraskan berbagai budaya yang berbeda.

Sepakbola dan bisnis
Karena sifatnya yang bernada hiburan massal maka tak pelak sepakbolapun telah berubah menjadi sebuah industri dan bisnis. Para pebisnis tentu akan menetes liurnya kala mengetahui dengan pasti hitung-hitungan nilai uang yang bisa mereka raup dari sepakbola. Makanya tak mengherankan bila orang-orang seperti Rupert Murdoch, Roman Abramovich, Malcolm Glazer, dll. sampai berani menenggelamkan dirinya dalam bisnis berbau sepakbola.

Tahun 2003, Roman Abramovich seorang Yahudi asal Rusia yang umurnya belum lagi menginjak 40 tahun namun telah duduk di urutan ke-25 di daftar orang terkaya dunia itu membeli Chelsea. Sebelum Abramovich datang, Chelsea bukan apa-apa. Klub asal London itu hanya sebuah klub medioker yang minim prestasi. Tentu sangat jauh bila dibandingkan dengan Manchester United, Liverpool, Arsenal bahkan dengan Tottenham Hotspur sekalipun. Namun, guyuran poundstreling yang seperti tak terbatas dari seorang Abramovich dalam waktu singkat mengubah Chelsea menjadi sebuah klub yang disegani di Inggris dan Eropa.

Abramovich memang hanya orang yang sok tau soal sepakbola, namun naluri bisnis yang berbalut ketamakan membuatnya rela menggelontorkan uangnya yang seolah tak terbatas itu untuk membentuk sebuah imperium, tepat di jantung Inggris.

Abramovich tak sendiri, di belakangnya ada deretan orang-orang berkantong tebal yang ikut-ikutan bermain di bisnis sepakbola. Tujuannya tentu hanya satu, bagaimana meraih keuntungan sebesar-besarnya meski perlahan spirit murni di dalam tubuh sepakbola itu telah sirna.

Karena posisinya sebagai ladang bisnis yang kian subur itupula yang menjadikan sepakbola sebagai sebuah mata pencaharian yang paling dibidik oleh jutaan orang. Bukan hanya oleh mereka yang berkeringat langsung di lapangan hijau, namun juga oleh mereka yang berstatus agen, yang lebih banyak melakukan perjalanan, telepon, makan malam dan negosiasi. Agen pemain adalah sebuah pisau bermata dua. Di satu sisi bisnis besar sepakbola sangat membutuhkannya, sementara di sisi lain banyak yang menganggapnya hanya sebagai parasit yang mengambil keuntungan dari pihak pemain dan klub tanpa harus berkeringat.

Namun mungkin tak banyak yang tahu, kalau bisnis besar EPL (Liga Inggris) pernah diselamatkan kelangsungannya oleh seorang fisioterapis bernama Gary Lewin. Lewin yang bekerja untuk klub Arsenal berhasil mengambil sebuah langkah paling menentukan di masa yang sangat krusial untuk menyelamatkan tidak saja masa depan Eduardo Da Silva yang waktu itu terkena cidera sangat parah, namun juga masa depan bisnis EPL. Bila saja Lewin terlambat aau salah mengambil tindakan, maka Eduardu mungkin akan menjadi seorang mantan pemain sepakbola yang salah satu kakinya terpaksa diamputasi dan EPL akan menjadi sebuah ajang yang dijauhi para pebisnis karena dianggap sebagai arena pernuh dengan kebrutalan. (bab: the forgotten man).

Bisnis sepakbola juga pada akhirnya menciptakan sebuah bentuk perbudakan modern. Pada bab : Kisah John Obi Mikel diceritakan lika-liku seorang bocah asal Ghana yang menjadi rebutan dua klub besar : Manchester United dan Chelsea. Kasus perebutan ini sampai memaksa otoritas sepakbola dunia-FIFA untuk turun tangan. Di bab yang lain : Man Without Country, diceritakan tentang nasib seorang anak Afrika yang terlunta-lunta setelah mimpinya menjadi pesepakbola terkenal sirna di negeri orang.

Sebagai sebuah bisnis massal yang menggiurkan, sepakbola telah mampu menciptakan sebuah mimpi indah bagi jutaan anak-anak di negara miskin. Terkadang mimpi mereka menjadi kenyataan seperti yang dialami Ronaldinho, Michael Essien, Ronaldo, Samuel To’o, dll. Namun tak sedikit juga yang harus patah arang di tengah jalan dan kemudian kembali ke kehidupan nyata mereka yang berkubang kemiskinan.

Sepakbola dalam negeri.
Di buku ini, Arief Natakusumah juga menuliskan beberapa bab yang berkaitan dengan sepakbola negeri kita, meski dia sendiri mengaku selalu menghindari untuk menulis tentang sepakbola Indonesia.

Dengan bahasa yang menarik, Arief menyusun dan menceritakan kembali berbagai kejadian dalam sepakbola kita, terutama saat kita masih boleh berbangga diri pada prestasi sepakbola dalam negeri. Indonesia adalah negara Asia pertama yang mengirimkan wakilnya di ajang piala dunia, Indonesia juga pernah menjadi sebuah tim yang ditakuti di kawasan Asia. Sayangnya, saat negara-negara Asia lainnya mulai berbenah diri dan maju selangkah demi selangkah, kita malah asyik mundur ke belakang sambil terus berusaha mengurai benang kusut pesepakbolaan tanah air.

Dalam buku ini cukup banyak bab yang menceritakan tentang sepakbola kita, meski sebagian besar adalah kisah-kisah romantisme masa lalu. Dalam bab: “Derby” a la Jawa diceritakan dengan sangat apik tentang rivalitas yang sudah mendarah daging dan turun temurun antara Persis Solo dengan PSIM Jogjakarta. Sementara itu dalam bab: Sengsara membawa nikmat diceritakan bagaimana pengalaman tim nasional kita saat pertama kali melakukan partai lawatan ke luar negeri, tepatnya ke Singapura. Pertandingan pertama tim nasional kita diceritakan pada bab : debut PSSI. Dalam bab-bab tersebut dengan jelas dapat dirasakan bagaimana besarnya kekuatan sebuah semangat dan motivasi mengalahkan banyak keterbatasan. Hal yang rasanya sudah hilang dari pemain sepakbola kita saat ini.

Penulis juga tak lupa membubuhkan berbagai catatan tentang ironi yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia, tentang fanatisme luar biasa orang-orang kita pada klub dan tim nasional negeri lain yang membuat orang bule sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.

Arief Natakusumah sebelumnya dikenal sebagai salah seorang awak pada tabloid BOLA sebelum akhirnya menyeberang ke majalah BOLAVAGANZA. Keterlibatannya yang panjang dengan dunia sepakbola membuatnya mampu menulis tentang sepakbola dengan sangat lancar. Arief mampu menceritakan berbagai kaitan yang jelas antara sepakbola dengan bisnis, politik dan budaya secara gamblang, ibaratnya dia bercerita tentang sepakbola dengan bahasa sepakbola itu sendiri.

Buku ini jelas adalah sebuah buku yang layak menjadi pegangan bagi para pecinta sepakbola, atau orang awam yang ingin mengerti tentang sepakbola dan kaitan olahraga ini dengan berbagai hal seperti bisnis, politik dan budaya.

Judul buku : Drama itu bernama sepakbola
Penulis : Arief Ntakusumah
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 334 halaman + xxii

resensi dari http://iipull.multiply.com/reviews/item/6