William Shakespeare diadaptasi ke dalam sebuah film Indonesia berjudul sama yang dipadukan dengan kisah nyata fanatisme suporter sepakbola di Indonesia.

“Fanatisme telah hidup dalam diri para suporter berlandaskan berbagai motif, baik yang rasional maupun yang di luar nalar. Mereka bahkan rela mati demi klub kesayangannya,” kata sutradara dan penulis naskah film “Romeo Juliet”, Andibachtiar Yusuf di Jakarta, Selasa.

Yusuf, demikian ia biasa dipanggil mengungkapkan meski sepakbola identik dengan laki-laki, namun faktanya ribuan suporter fanatik adalah juga kaum perempuan.

Ia juga menemui banyak cerita cinta di kalangan suporter yang berakhir sedih karena menjalin percintaan dengan suporter klub musuh di mana dalam sudut pandang para suporter, jatuh cinta atau bahkan merajut tali kasih dengan suporter klub musuh merupakan hal yang haram.

“Dari situ saya terinspirasi untuk membikin film `Romeo Juliet`, mengangkat kisah cinta dan fanatisme diantara para suporter Jakmania dan Viking Bandung,” katanya.

Pendukung Persija Jakarta memberi label para suporter perempuan mereka dengan nama Jak-Angel, sedangkan Persib Bandung memilih nama Lady Vikers. Pada titik inilah cerita dalam film Romeo-Juliet yang diproduksi oleh Bogalakon Pictures ini menemukan rentetan konflik.

Film “Romeo Juliet” berawal dari kisah Rangga (Edo Borne), seorang Jakmania yang jatuh cinta pada Desi (Sissy Prescillia) yang seorang Lady Vikers.

Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama saat terjadi bentrokan berdarah antara Jakmania versus Viking. Rangga memutuskan untuk pergi ke Bandung untuk bertemu Desi.

Bagi kawan-kawan dekatnya, kepergian Rangga ke Bandung seperti layaknya menyetorkan nyawa pada Viking. Ia kemudian dianggap pengkhianat oleh para Jakmania.

Sedangkan Desi mengalami penolakan keras tatkala keluarganya tahu bahwa ia menjalin kasih dengan seorang Jakmania. Apalagi kakak Desi, Parman (Alex Komang), adalah pemimpin Viking.

Film ini sangat lekat dengan dunia sepakbola karena dimana Yusuf sebelumnya membesut film dokumenter “The Conductors”. Film tersebut berkisah tentang dirigen atau konduktor suporter sebuah klub sepakbola. Film tersebut meraih penghargaan untuk kategori Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008.

Yusuf mengakui film “Romeo Juliet” masih jauh dari sempurna karena ini merupakan karya pertamanya dalam format layar lebar, namun di balik itu ia bangga karena didukung tim yang solid dalam penggarapannya.

“Aku bersyukur banyak orang-orang hebat yang membantu dalam penggarapan film ini, terutama Ananda Sukarlan yang menjadi `Music Director`. Dia membuat ilustrasi yang sangat indah dan istimewa, pokoknya bagus banget deh,” katanya seraya tersenyum.

Film “Romeo Juliet” akan tayang di bioskop Indonesia pada 23 April mendatang dan sebelumnya telah tayang perdana (world premiere) di Hongkong International Film Festival, 23-31 Maret 2009.